Torehkan Prestasi Internasional, Mahasiswa Sasing Untag Surabaya Raih Bronze Medal di Ajang International Ideapaper Competition 2025

Sabtu,22 Maret 2025 - 12:24:46 WIB
Dibaca: 24 kali

Kembali menorehkan prestasi luar biasa di kancah internasional, dua mahasiswa Untag Surabaya – Wiranti Kusuma Dewi (Teknik Industri) dan Stefanus Diky Setyawan (Sastra Inggris) berhasil membawa pulang Bronze Medal dan Special Award The Winner of Best Multidiciplinary Approach Award dalam ajang International Ideapaper Competition 2025. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Exalter Students ini digelar secara hybrid, dan Final dilaksanakan di Kota Semarang, Jawa Tengah, (22/2).

 

Pada kompetisi ini, Ranti sapaan akrabnya, bersama Diky mengusung ide ‘EcoPath: Bio-Material-Based Biopaving Technology for Rural and Urban Road Infrastructure Development and Carbon Footprint Reduction’ yang memanfaatkan bio-minyak hasil daur ulang limbah biomassa dan teknologi Microbial-Induced Calcite Precipitation (MICP). “Dengan menggunakan bahan-bahan bio sebagai material paving, kami berharap dapat mengurangi jejak karbon dan mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih berkelanjutan. Topik ini juga relevan dengan isu besar saat ini seperti keberlanjutan lingkungan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi,” jelasnya.

 

Ranti merasa terbantu oleh rekan se-timnya dalam menyusun ide dan menyajikan data dengan cara yang lebih jelas dan mudah dipahami. “Kami juga banyak berdiskusi dan brainstorming bersama untuk menyempurnakan ide. Keluarga kami sangat mendukung, memberikan semangat dan motivasi setiap kali kami merasa lelah atau terhambat. Tanpa dukungan mereka, perjalanan kami pasti akan lebih sulit,” ungkap mahasiswa semester delapan itu.

 

Selain itu, Ranti juga berharap idepaper ini bisa lebih berkembang, baik dalam bentuk riset lanjutan maupun implementasi teknologi di dunia nyata. “Kami ingin menggali lebih dalam tentang aplikasi praktis dari teknologi paving berbasis bahan bio ini, baik untuk proyek infrastruktur pedesaan maupun perkotaan. Kami juga berencana untuk mengajukan ide ini ke pihak-pihak terkait, seperti pemerintah atau perusahaan yang tertarik dengan solusi ramah lingkungan,” ujarnya.

 

Diky mengungkapkan beberapa kendala selama proses menjalani kompetisi tersebut. “Pengembangan ide yang membutuhkan riset mendalam, manajemen waktu di tengah kesibukan akademik dan pekerjaan, serta penyusunan proposal sesuai format yang ketat menjadi kendala utama kami dalam menyelesaikan paper ini. Namun semua tantangan ini diatasi dengan riset yang kuat, pembagian tugas tim yang efektif, manajemen waktu yang disiplin, serta persiapan dan latihan presentasi yang matang,” ungkapnya

 

Tidak hanya itu, Diky mengatakan bahwa mereka diberi dukungan penuh dari Untag Surabaya dalam bentuk biaya pendaftaran serta dana apresiasi. “Dukungan ini sangat membantu dalam kelancaran proses kompetisi dan menjadi motivasi tambahan bagi tim,” tandas mahasiswa Prodi Sastra Inggris itu.

 

Sebagai penutup, Diky mengajak para mahasiswa Untag Surabaya untuk mencoba dan keluar dari zona nyaman, karena setiap kompetisi adalah peluang untuk belajar dan berkembang. “Percayalah pada kemampuan diri sendiri, kelola waktu dengan baik, dan tetap konsisten dalam berusaha. Menang atau kalah bukanlah tujuan utama, tetapi pengalaman, jaringan, dan wawasan yang diperoleh akan sangat berharga untuk masa depan,” tuturnya. (vs)

Kembali menorehkan prestasi luar biasa di kancah internasional, dua mahasiswa Untag Surabaya – Wiranti Kusuma Dewi (Teknik Industri) dan Stefanus Diky Setyawan (Sastra Inggris) berhasil membawa pulang Bronze Medal dan Special Award The Winner of Best Multidiciplinary Approach Award dalam ajang International Ideapaper Competition 2025. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Exalter Students ini digelar secara hybrid, dan Final dilaksanakan di Kota Semarang, Jawa Tengah, (22/2).

 

Pada kompetisi ini, Ranti sapaan akrabnya, bersama Diky mengusung ide ‘EcoPath: Bio-Material-Based Biopaving Technology for Rural and Urban Road Infrastructure Development and Carbon Footprint Reduction’ yang memanfaatkan bio-minyak hasil daur ulang limbah biomassa dan teknologi Microbial-Induced Calcite Precipitation (MICP). “Dengan menggunakan bahan-bahan bio sebagai material paving, kami berharap dapat mengurangi jejak karbon dan mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih berkelanjutan. Topik ini juga relevan dengan isu besar saat ini seperti keberlanjutan lingkungan, kesehatan, dan pembangunan ekonomi,” jelasnya.

 

Ranti merasa terbantu oleh rekan se-timnya dalam menyusun ide dan menyajikan data dengan cara yang lebih jelas dan mudah dipahami. “Kami juga banyak berdiskusi dan brainstorming bersama untuk menyempurnakan ide. Keluarga kami sangat mendukung, memberikan semangat dan motivasi setiap kali kami merasa lelah atau terhambat. Tanpa dukungan mereka, perjalanan kami pasti akan lebih sulit,” ungkap mahasiswa semester delapan itu.

 

Selain itu, Ranti juga berharap idepaper ini bisa lebih berkembang, baik dalam bentuk riset lanjutan maupun implementasi teknologi di dunia nyata. “Kami ingin menggali lebih dalam tentang aplikasi praktis dari teknologi paving berbasis bahan bio ini, baik untuk proyek infrastruktur pedesaan maupun perkotaan. Kami juga berencana untuk mengajukan ide ini ke pihak-pihak terkait, seperti pemerintah atau perusahaan yang tertarik dengan solusi ramah lingkungan,” ujarnya.

 

Diky mengungkapkan beberapa kendala selama proses menjalani kompetisi tersebut. “Pengembangan ide yang membutuhkan riset mendalam, manajemen waktu di tengah kesibukan akademik dan pekerjaan, serta penyusunan proposal sesuai format yang ketat menjadi kendala utama kami dalam menyelesaikan paper ini. Namun semua tantangan ini diatasi dengan riset yang kuat, pembagian tugas tim yang efektif, manajemen waktu yang disiplin, serta persiapan dan latihan presentasi yang matang,” ungkapnya

 

Tidak hanya itu, Diky mengatakan bahwa mereka diberi dukungan penuh dari Untag Surabaya dalam bentuk biaya pendaftaran serta dana apresiasi. “Dukungan ini sangat membantu dalam kelancaran proses kompetisi dan menjadi motivasi tambahan bagi tim,” tandas mahasiswa Prodi Sastra Inggris itu.

 

Sebagai penutup, Diky mengajak para mahasiswa Untag Surabaya untuk mencoba dan keluar dari zona nyaman, karena setiap kompetisi adalah peluang untuk belajar dan berkembang. “Percayalah pada kemampuan diri sendiri, kelola waktu dengan baik, dan tetap konsisten dalam berusaha. Menang atau kalah bukanlah tujuan utama, tetapi pengalaman, jaringan, dan wawasan yang diperoleh akan sangat berharga untuk masa depan,” tuturnya. (vs)


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya