MBKM- Kampus Mengajar Memberikan Pengalaman Baru yang Berharga dan Skill Mengajar yang Belum Pernah Didapatkan

  Rabu, 20 April 2022 - 18:25:43 WIB   -     Dibaca: 92 kali

Bilqis Nabillah atau biasa disapa Bilqis, mahasiswi semester 4 Sastra Inggris yang berasal dari Bangil Kab. Pasuruan berkuliah di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG Surabaya). Bilqis masuk perguruan tinggi pada tahun 2020 yang mana saat itu virus Covid-19 sedang parah-parahnya. Selama itu dia hanya mengikuti kegiatan perkuliahan dan UKM secara online, dan itu membuat perempuan ini merasa kurang maksimal untuk memperkuat dan menambah soft skill yang ada padanya. Namun dengan adanya MBKM Kampus Mengajar ini, Bilqis merasa mempunyai kesempatan untuk aktif berkegiatan dan memberdayakan dirinya.

Dia ikut serta dalam program MBKM Kampus Mengajar dengan harapan bisa mendapatkan pengalaman baru yang berharga dan skill mengajar yang belum pernah dia dapatkan. Setelah dinyatakan lolos seleksi pada bulan Januari, bilqis melakukan pembekalan secara online di bulan Februari selama 1 bulan full, dan kemudian dia dan team 4 orang termasuk dia beserta DPL (dosen pembimbing lapangan) berangkat ke sekolah sasaran pada tanggal 1 Maret 2022. Dia di tempatkan di SD Negeri Pacarkeling IX Surabaya. Bilqis memaparkan bahwa Dikegiatan ini saya belajar bagaimana cara berinteraksi dengan para warga sekolah seperti guru dan murid. Sekaligus bernostalgia dengan masa anak-anak saya dulu di sekolah :). "Di sini saya juga belajar bagaimana public speaking yang baik kepada adik-adik SD, memahami karakter mereka dan mencoba beradaptasi dengan cara belajar mereka", ujar mahasiswi semester 4.

Dengan memotivasi terbesarnya adalah dirinya sendiri. perempuan ini juga berusaha berkompetitif dengan diri saya di masa lalu untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan selalu ingin belajar. “Saya juga meyakini sebuah quote bahwa "Ilmu yang barakah adalah ilmu yang diamalkan" Dengan begitu saya berharap bisa mengimplementasikan apa yang saya dapatkan selama diperkuliahan untuk adik-adik di sekolah dasar. Selanjutnya adalah orang-orang di sekeliling saya, seperti orang tua, keluarga, dan sahabat-sahabat saya. Saya tidak ingin mengecewakan diri saya sendiri dan orang-orang yang telah mendukung saya sampai sejauh ini untuk terus melakukan hal-hal positif dan menjadi orang yang bermanfaat. Selain itu, karena beberapa kakak sepupu saja berprofesi sebagai guru, saya juga ingin merasakan apa yang mereka rasakan yaitu menjadi seorang tenaga pengajar.” Kata wanita itu

“Di Program Kampus Mengajar saya bisa belajar dari mereka yang saya temui di luar Universitas.” Tegas Bilqis. Bilqis menambahkan bahwa dia memiliki kendala pada saat di lapangan Selama 1 bulan berkegiatan di bulan Maret ini, kendala pertama yang dia hadapi adalah dari dirinya sendiri seperti; Bagaimana cara menghadapi anak-anak? Bagaimana membuat mereka bisa nyaman dengan dia dan juga paham dengan apa yang dia sampaikan? Bagaimana cara menciptakan kelas yang kondusif saat pembelajaran berlangsung?

Dan kendala kedua yang dia hadapi adalah ada pada team seperti; kami menemukan banyak siswa yang masih belum bisa membaca alias kurang dalam pemahaman Literasi dan Numerasi. Yang mana Hal itu menjadi tantangan sekaligus PR untuk mereka bagaimana caranya saat mereka selesai program Kampus Mengajar adik-adik ini sudah bisa membaca dan berkembang dalam Literasi dan Numerasi sesuai dengan program Kampus Mengajar.

Bilqis juga menjelaskan, "Walau kendala-kendala yang dia jumpai pada saat di lapangan cukup rumit  dia selalu Berkoordinasi bersama team, dosen pembimbing lapangan, guru pamong sekolah beserta para dewan guru. Dengan Membuat program kerja yang dikhususkan untuk adik-adik yang masih kurang dalam pemahaman Literasi dan Numerasi seperti; pembelajaran/les tambahan sepulang sekolah di perpustakaan selama 1 jam, Tentunya tanpa dipungut biaya. Mereka juga tentunya membuatkan pemberitahuan beserta surat izin untuk diberikan kepada orang tuanya. Dengan  Mengadakan kuis/lomba yang mana akan diberikan reward. Yang mana dengan adanya reward mereka berharap adik-adik akan termotivasi dan semangat berkompetisi dalam belajar. 

“Saya suka bisa belajar banyak hal baru dengan praktek langsung dan berinteraksi dengan adik-adik di sekolah dasar. Bukan hanya saya yang mengajarkan kepada adik-adik, tapi saya juga belajar dari mereka bagaimana menjadi lebih sabar dan telaten. "Dukanya karena ini merupakan pengalaman baru sebagai shadow teacher, terkadang saya masih sungkan kepada guru wali kelas/guru bidang study seperti Bahasa Inggris untuk menghandle kelas. Jika diizinkan barulah saya bisa leluasa menguasai kelas, ngajar sendiri ngomong sendiri pusing sendiri. Mungkin karena ini sekolah dasar maka terkadang sulit mengkondisikan kelas yang terlalu noisy atau adik-adik yang bandel dan susah diatur," ucap Bilqis. (saf/mui)



Sistem Informasi Manajemen Akademik Untag Surabaya Link